ALORIDUL

A non-fractal related chit-chat by guagapunyaimel

Hitam Manis

Sering pembaca mendengar istilah “hitam manis”. Tapi apakah pernah pembaca yang budiman mencoba mencari tahu darimanakah gerangan istilah itu berasal? Jikalau tidak pernah, apakah pembaca berkehendak membaca cerita asal muasal “hitam manis” dari cerita yang hendak saya utarakan? Jikalau hendak, mari silahkan lanjut membaca.

                Suatu hari di sebuah daerah kecil di Jawa Barat, terdapatlah sebuah desa bernama Sukamakmur. Mayoritas penduduk di desa tersebut bermatapencaharian sebagai penjual pisang goreng, terutama ibu-ibu. Pisang goreng yang mereka buat bagaikan industri rumahan yang sangat besar. Hampir di tiap rumah mereka memproduksi pisang goreng, yang nantinya akan saling di beli oleh para warga desa Sukamakmur tersebut. Ya, benar, mereka saling membeli pisang goreng yang mereka produksi masing-masing. Mereka senang mencicipi satu sama lain hasil produksi pisang goreng mereka. Entah bagaimana, tapi mereka tidak pernah bosan untuk menyantap pisang goreng, dan hal ini sudah berlangsung sejak awal desa Sukamakmur terbentuk hingga saat ini.

Akan tetapi tradisi pembuatan pisang goreng dan saling membeli pisang goreng antar warga ini mulai terancam punah. Apa sebabnya? Tentu sama dengan penyebab terjadinya kepunahan berbagai budaya: modernisasi. Tidak ada generasi muda yang berminat untuk meneruskan tradisi membuat dan saling memakan pisang goreng di desa Sukamakmur. Generasi muda lebih senang untuk pergi ke kota, mencari pekerjaan yang tidak pasti.

                Meskipun demikian, masih ada segelintir gadis kota yang berasal dari desa Sukamakmur yang mau untuk meneruskan usaha membuat pisang goreng.  Mereka adalah anak muda generasi sekarang yang peduli akan kelestarian buadaya leluhur mereka. Para aktivis kebudayaan yang berasal dari kota maju, berusaha untuk melestarikan budaya mereka. Tanpa ragu mereka kembali ke kampung halaman, meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kota. Meninggalkan segala gemerlapnya demi kelestarian budaya leluhur.

                Mereka pun kembali tinggal di desa Sukamakmur, membuat pisang goreng untuk saling dimakan satu sama lainnya. Akan tetapi sebagaimana anak muda jaman sekarang, mereka tiadalah lihai dalam mengolah makanan menjadi panganan yang nikmat. Mereka tahu bagaimana cara menyalakan kompor minyak tanaha. Mereka tidak tahu seberapa banyak minyak goreng yang dibutuhkan untuk menggoreng pisang goreng. Mereka tidak tahu bahan campuran apa yang dibutuhkan untuk membuat pisang goreng yang enak. Namun sebagaimana anak muda jaman sekarang, mereka tidak kenal menyerah. Mereka terus berusaha belajar.

                Suatu hari, mereka mulai melakukan produksi pisang goreng. Karena ketidaktahuan mereka yang banyak, sampai-sampai mereka tidak mengerti apakah pisang yang mereka gunakan itu adalah pisang manis atau tidak. Mereka tidak mau untuk mencicipi rasanya pisang karena pada saat itu memakan pisang bagai wanita adalah hal yang tabu, karena pisang dianggap mempunyai bentuk sebagaimana kelamin laki-laki. Oleh karena itu, mereka menambahkan gula pasir ke dalam adonan pisang goreng untuk memastikan bahwa pisang goreng yang mereka buat memiliki rasa yang manis.

                Namun apa yang terjadi, pisang goreng yang mereka buat tidak memiliki penampilan yang menarik dibandingkan pisang goreng yang dibuat oleh para leluhur mereka. Pisang goreng yang mereka buat memiliki bintik-bintik berwarna hitam, tidak mulus berwarna kuning keemasan sebagaimana pisang goreng yang dibuat oleh para leluhur mereka. Ketika pisang goreng tersebut ditunjukkan pada para leluhur, diketahui bahwasannya bintik-bintik hitam tersebut disebabkan karena penggunaan gula pasir pada campuran adonan pisang goreng. Oooh terenyata itulah sebabnya pisang goreng mereka tidak semenarik pisang goreng leluhur.

                Tapi oh tetapi itu semua tidak menjadi masalah bagi mereka. Yang terpenting mereka bisa memastikan bahwa pisang goreng tersebut memiliki rasa yang manis. Meskipun hitam, tapi manis. Hitam manis.

                Demikianlah cerita asal muasal “hitam manis” yang dapat saya utarakan. Apabila pembaca yang budiman memiliki versi lainnya yang lebih sahih, bolehlah kiranya pembaca membagi ceritanya tersebut kepada tim redaksi kami.

Salam Sayang..

Bandung, 18 Maret 2013

Mendengar Dengan Mata

Aku benci kesunyian. Sepinya begitu membunuhku. Entah kau yang ribut atau aku yang banyak bicara, itu lebih baik daripada sunyi dan sepi sendiri. Meski pada kenyataannya saat dekat denganmu aku lebih memilih berdiam saja. Dan aku akan bisa berdiam saja tanpa bicara sepatah pepatah apapun ketika aku berada bersamamu. Karena engkau adalah cerita, dan menatapmu adalah mendengar. Dengan hanya dekatmu aku berada di arena ketenangan. Dengan berada di dekatmu aku berada di suasana nyaman. Dengan hanya di dekatmu aku berada di seluruh aku.

Tentu kau juga tau, aku ini orangnya sesiapan, yaitu mereka yang tidak beberapa siap dengan pertanyaan awam yang tetiba diajukan. Tak lain dan tak bukan hal itu disebabkan oleh aku yang sebisa mungkin tidak berfikir apapun. Bukan kosong, tapi membebaskan segala nafsu, pikiran, dan keresahan apapun lainnya. kosong bukan berarti tidak berisi. Sedangkan kosong juga tidak berarti tidak bervisi. Visiku jelas, bisa berjumpa lagi denganmu di surga sana, sebagaimana kita berada di kefanaan dunia. Menjadi aku yang aku dengan aku bersamamu. Jelas sekali. Apa lagi yang kurang jelas? Itu adalah selayaknya menjadi visi bagi tiap mahluk di dunia.

Dan tentu kau tau bahwa di dunia ini ada beberapa kata yang baik terucap, dan ada yang baik terlihat. Sesungguhnya mereka adalah sama-sama berbeda. Yaitu kata-kata yang baik terdengar oleh telinga, dan kata-kata yang baik terdengar oleh mata.

Kata yang baik terdengar oleh telinga adalah kata yang biasa kita ucapkan dengan suara, yaitu hanyalah getaran udara yang melalui rongga mulut kita. Yang biasa kita lakukan seseharian sampai kita merasa tidak.

Kata yang baik terdengar oleh mata adalah kata yang biasa kita tuliskan dengan tinta, dengan ataupun tanpa cinta. Yang biasa kita lihat di keseharian, berwarna hitam di atas beragam warna-warna. Dan keduanya memiliki kesamaan yaitu terlalu sering kita lakukan sehingga kita merasa tidak.

Oh apalah kata-kata itu jika hanya lalu kata-kata saja tanpa perbuatan. Adakah lebih baik diam saja lalu berbuat? Ataukah berkata-kata lalu diam saja? Tentu kau tau, berkata-kata saja dapat membuat kita berkaca-kaca. Perbuatan itu adalah kesatuan yang mutlak. Dibutuhkan manusia untuk dapat bertahan hidup. Segala kelakuannya di dunia adalah perbuatan. Manusia yang berbuat sudah barang tentu akan berbahagia di dunia dan di alam sesudahnya. Adapun mereka yang berkata-kata saja, tentu akan berkaca-kaca, bukan di dunia, tapi di alam sesudahnya.

Catatan Di Atas Kereta

Yang aku lakukan ini sangat klasik. Bagai ada di film-film jaman dahulu, dimana seorang pemuda menuliskan sebuah kisah cinta tentang rindu pada seorang wanita.

Malang. Kesannya bagiku ia adalah kota yang lucu menurutku. Pertama dari segi penjual makanan. Yang di jakarta disebut pecel lele/ayam, maka di malang dan jawa timur pada umumnya dikenal sebagai lalapan. Entah kenapa disebut begitu. Mungkin mereka sering melihat orang sunda memakan sayuran mentah dan disebut lalap, maka mereka pun menyebutnya lalapan. Mungkin juga sebaliknya.

Apa isi lalapan itu? Ada tiga yang banyak ditemui di sini.ikan mujaer goreng, ikan lele goreng, dan ayam goreng. Serta tak lupa tahu dan tempe sebagai pelengkapnya. Juga tak lupa bahan utama yang menjadi namanya, lalapan berupa kol, kemangi, dan mentimun. Itu dia satu lagi yang aneh. Padahal lalapan tetap merupakan pelengkap saja, tapi makanan-makanan ini disebut lalapan. Tentu, semua itu ditutup dengan sambal ulek yang dicampur dengan tomat dan gula jwa, sehingga rasanya pun menjadi pedas campur manis.

Hal lainnya dari makanan lalapan ini adalah lauk utama ayamnya. Kalau di jakarta, pecel ayam jakarta, ayam yang disajikan ‘adalah bagian dada maupun paha utuh. Lain halnya dengan lalapan yang ada di jawa timuran. Yang pertama aku jumpai adalah yang modelnya begini: ayam dipotong bagian-bagian kecil, kemudian ditusuk menjadi sate, dan kemudian digoreng, dengan bumbu ayam goreng tradisional tentunya.

Kedua kali saya membeli lalapan ayam ini, yang saya temukan adalah ayam goreng tepung. Yang mana biasanya ayam goreng tepung ini saya lahap dengan menggunakan sambal sebagai pelengkapnya, disini ayam goreng tepung tersebut disantap dengan menggunakan sambel ulek.

Kemudian yang juga saya temukan lucu adalah pilihan nasinya. Dimana biasanya pilihan nasi yang ada adalah nasi uduk dan nasi putih biasa, maka di malang ini yang saya temukan pilihan nasinya adalah nasi kuning dan nasi puti biasa. Penyajian pecel ayam goreng tepung ini pun cukup lucu. Ayam yang sebenarnya sudah digoreng garing dengan berbalur tepung itu digoreng kembali sesaat sebelum disajikan. Menurut saya itu ya kurang baik karena minyaknya malah akan menjadi lebih banyak. Tapi mungkin apa yang ada dalam pemikiran sang penjual adalah dia berusaha menghangatkan lagi ayam yang sudah dingin. Kemudian semua itu dibungkus menjadi satu dengan pembungkus kertas. Nasi, lauk, dan lalapan, serta sambal dijadikan satu. Ini satu hal lagi yang berbeda dalam hal penyajiannya di tempat lain, dimana di tempat lain pembungkusannya dipisah-pisah antara nasi, lauk, lalap, dan sambalnya.

Apa lagi yang kemudian menarik di malang ini adalah nasi gorengnya. Di malang sini penjual nasi goreng akan bertanya apakah ingin pakai sambal atau tidak. Jika tidak, maka nasi goreng akan berwarna cokelat seperti biasa kita kenal. Akan tetapi, jika menggunakan sambal, maka nasi goreng yang dipesan akan memiliki warna yang bervariasi, tergantung sambal yang digunakan oleh si penjual. Yang saya makan kali ini adalah nasi goreng yang berwarna pink. Menurut teman saya, di tempat lain dia pernah juga memakan nasi goreng yang berwarna ungu. Ini bukan menggunakan pewarna macam-macam, karena memang jenisa sambalnya yang digunakan memang berbeda, yaitu sambal yang didatangkan dari cina sana. Entah apa itu namanya.

Di malang, saya tidak terlalu banyak memperhatikan tingkah polah anak mudanya. Yang banyak saya lakukan adalah banyak berwisata ke beberapa candi yang ada di malang dan sekitarnya. Candi Badut, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Sumberawan, dan Candi Singosari saya datangi sesuai urutan penulisan.

Dalam benak saya ketika akan mengunjungi candi-candi tersebut adalah akan ramai, banyak pengunjung, sulit mendapatkan foto yang bagus, dan lain sebagainya. Tapi oh ternyata semua itu hanyalah bayangan semata. Kenyataannya adalah situs candi-candi tersebut berada di tengah-tengah pemukiman penduduk dan sepi pengunjung, padahal hari itu hari sabtu. Lokasi candi-candi tersebut bisa dikatakan sangat bersih dan terawat. Rapih dan bersih mungkin ada beberapa sebabnya. Mungkin karena situs-situs tersebut masih dihargai oleh penjaga dan masyarakat yang peduli bahwa situs-situs tersebut merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga sehingga wajib dilestarikan. Mungkin juga bersih dan terawat karena situs-situs tersebut masih dipakai oleh umat hindu. Hal ini kuat juga untuk menjadi alasan karena di candi-candi tersebut terdapat dupa-dupa peribadatan yang masih menyala. Atau mungkin bersih dan terawat karena alasan yang ketiga, yaitu karena masyarakat masih mengkeramatkan, memuja-muji, dianggap angker dan berpenghuni. Maka masyarakat sekitar pun merawat dan menjaganya. Entahlah mana yang benar. Ini semua hanyalah hasil analisis dan pengamatan saya saja.

Biasanya, di situs-situs sejarah terdapat banyak corat-coret. Namun di situs candi ini tidak terdapat corat-coret. Bentuk vandalisme yang ada berupa pahatan-pahatan nama . ya, benar sekali, pahatan nama. Oh, betapa niatnya para vandalis itu memahat karena tidak bisa mencoret. Oh bukankah memahat itu membutuhka waktu yang lama? Dan berisik? Tapi para penjaga tidak ada yang bereaksi? Dan vandalisme ini tetap ada? Entahlah.

Salah satu candi yang menurut saya cukup unik adalah Candi Sumberawan. Unik karena lokasinya yang berbeda denagn kebanyakan candi lainnya. Jika candi yang lainnya berlokasi di sekitaran perumahan penduduk, maka candi sumberawan ini berada di tengah-tengah hutan, dekat dengan persawahan. Mungkin karena lokasinya yang sulit dijangkau kendaraan, yaitu hanya dapat dilalui motor atau jalan kaki, maka candi ini menjadi kurang populer. Mungkin juga kurang tepat jika dikatakan sebagai candi dan lebih tepat disebut sebagai stupa. Karena memang bentuknya yang seperti stupa tunggal saja. Satu hal yang menarik di tempat ini adalah adanya semacam tempat meditasi, yang mana tidak saya temui di candi-candi lainnya. Entah itu adalah memang asli atau buatan baru (tapi sepertinya itu adalah buatan baru), dan mungkin dipakai untuk semedi (pesugihan?). memang lokasinya yang berada di tengah-tengah hutan memberikan suasana yang sangat magis.

Kami pun (saya dan teman saya) datang ke candi Sumberawan ini saat magrib tiba. Penjaga di sana menatap kami dengan tatapan sedikit curiga tentang kenapa kami datang ke sana pada waktu magrib. Seolah-olah kami datang ke sana untuk mencari pesugihan. Sampai pada akhirnya kami menjelaskan bahwa kami sedang berkeliling situs candi yang ada di malang dan sekitarnya, dan baru pada menjelang magrib itulah kami tiba di candi suberawan. Dan memang kami tidak ada maksud lain selain untuk berwisata.

Untuk masuk ke situs-situs candi tersebut tidak dikenakan biaya seperserpun. Setidaknya itu yang kami alami. Kami hanya mengisi buku tamu dan boleh berkeliling di komplek candi. Hanya saja di can di Sumberawan penjaga di sana meminta “uang partisipasi” pada kami dengan nominal yang tidak ditentukan (baca: seikhlasnya). Saya tidak tau bagaimana seharusnya kami bersikap. Apakah harus memberikan uang pada penjaga, atau tidak. Karena di lokasi pun tidak ada aturan mengenai itu. Tidak ada aturan yang melarang atau mengharuskan untuk membayar sejumlah uang tertentu untuk memasuki lokasi candi. Maka kami melakukan apa yang kami lihat. Yaitu jika penjaga tidak meminta, maka kami tidak memberi. Demikian pula sebaliknya.

Selain itu satu hal yang saya salut dan kagumi dari penjaga yang ada di candi kidal adalah bahwa ia sungguh juru kunci yang ideal. Dikatakan oleh dirinya sendiri bahwa dialah yang membuat peraturan mengenai tata cara kunjungan candi, serta larangan-larangan tambahan lainnya. Tujuannya adalah agar masyarakat, terutama anak muda bisa lebih peduli pada warisan leluhur mereka.

Apa lagi? Diketahui pula bahwa kebanyakan candi-candi tersebut ditemukan oleh belanda sekitar tahun 1920-1930-an. Ini artinya belanda baru sampai ke malang sekitar tahun-tahun itu. Kenapa ini saya ceritakan karena ada hubungannya dengan cerita yang akan saya ceritakan berikut ini.

Di malang saya bertemu dengan teman lama yang mana saya tidak menduga akan bisa bertemu dengannya di sana. Kenapa? Karena yang saya tau dia tinggal di bekasi. Tapi ternyata seiring berjalannya waktu keluarganya pindah ke malang. Maka berpindahlah dia ke malang. Zulfa namanya. Saya mengenalnya sewaktu saya dan dia berkuliah di bandung.

Di pertemuan itu kami banyak bercerita. Berbincang tentang waktu-waktu yang hilang. Sampai pada saat ia bertanya pada saya tentang bagaimana pendapat saya tentang wanita-wanita di malang. Apakah lebih cantik dari wanita di bandung? Atau bagaimana? Menurutnya wanita malang lebih cantik (cenderung manis) daripada wanita-wanita bandung. Menurut saya, wanita malang dan wanita bandung memiliki kecantikan yang sama dengan kekhasan mereka masing-masing, berdasarkan latar belakang sejarah.

Begini. Malang dan bandung bisa dikatakan memiliki cuaca yan serupa. Pegunungan dan dingin serta sejuk. Dengan cuaca yang demikian, maka cara wanita berpakaian, berdandan, serta cara mereka berperilaku adalah serupa pula. Maka, cuaca, dan iklim bukanlah sebab mereka memiliki kecantikan khas daerahnya masing-masing. Kekhasan kecantikan mereka didapat akibat adanya perbedaan latar belakang sejarah daerah mereka.

Di jaman penjajahan dulu, Bandung merupakan kota yang sangat disukai oleh para penjajah jepang dan belanda. Jauh pada awal penjajahan mereka sudah banyak dari mereka yang menetap di bandung karena cuaca bandung yang sejuk, mirip dengan cuaca negara mereka yang merupakan negara subtropis. Akan tetapi moral mereka pada jaman awal penjajahan matalah bejat. Lebih bejat dibanding pada masa menjelang kemerdekaan. Banyak terjadi pemerkosaan yang dilakukan para penjajah terhadap wanita-wanita lokal, yang pada akhirnya menghasilkan anak yang berdarah campuran eropa-asia, belanda-indonesia, dengan wajah dan fisik yang yang juga merupakan perpaduan keduanya. Anak-anak mereka itu terus hidup. Beranak pinak hingga sekarang anak cucu merekalah yang menjadi warga asli bandung. Meneruskan kecantikan darah campuran eropa-asia, hingga saat ini. Berbeda halnya dengan malang. Berdasarkan data yang ditemukan di candi-candi malang, situs-situs tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1920-1930 oleh bangsa belanda. Artinya, penjajah belanjda mulai masuk ke wilayah malang dan sekitarnya pada masa menjelang kemerdekaan, dimana moral para penjajah tidaklah sebejat masa awal penjajahan mereka. Perlakuan mereka terhadap pribumi lebih baik dan pemerkosaan pun tidak terjadi sebanyak pada masa dahulu. Maka anak turun yang lahir dari perut wanita malang adalah tetap murni dari garis keturunan mereka sendiri, dengan kecantikan murni khas indonesia.

Itulah, mengapa terdapat perbedaan antara wanita bandung dan malang, dengan kecantikan khas mereka masing-masing yang berlatarbelakang sejarah mereka. Dan ini pula lah yang aku sampaikan kepada zulfa sebagai jawaban dari pertanyaannya.



Kereta Malabar kelas ekonomi.
24 Juni 2012

Prolog

Yang pada awalnya penuh keriuhrendahan kini berubah menjadi sunyi dan aura-auranya. Banyak orang bilang bahwa untuk mengenal seseorang dengan lebih dekat, maka lakukanlah perjalanan bersamanya. Maka adalah tepat rasanya jika dikatakan bahwa seseorang akan menemukan dirinya sendiri jika ia berjalan berdua dengan kesendirian. Namun itu semua hanyalah romantisme belaka. Rectoverso. Yang pada hakikatnya sudah ada di dalam diri sendiri namun tidak terlihat karena sudut pandang yang berbeda.

Rectoverso adalah analogi yang tepat untuk manusia jaman sekarang yang penuh dengan kompleksitas dan teknologi yang tinggi. Rectoverso adalah teknologi yang tinggi. Dengannya, sisi gambar menjadi sulit untuk merasakan keberadaan sisinya yang lain. Lalu bagaimana untuk ia dapat merasakan lagi keberadaan sisinya yang ternyata tak kemana-mana itu? Tentu jawabnya adalah dengan menggunakan teknologi yang simpel dan sederhana, contohnya kertas biasa. Menjadi sederhana. Demikian juga dengan manusia yang merasa ada yang hilang dalam dirinya. Merasa kehilangan sesuatu yang ada dalam diri sendiri karena pemikiran yang terlalu kompleks dan penuh teknologi. Berpikir simpel dan sederhana, maka apa yang dirasakan hilang padahal tidak itu akan seketika jua terasa.

Perjalanan ini pun sendiri selama tujuh hari. Bukan untuk mencari diri tapi belahan hati. Dan itu pun hanyalah alasan romantisme belaka.

In memory of Solo, Semarang, Surabaya, Malang
17 – 24 Juni 2012

Nama Tanpa Marga

“Sejatinya anak adalah titipan dari tuhan”, kata mereka, “yang harus dirawat dengan baik, dijaga, dan dididik”. Banyak terdengar ucapan-ucapan seperti itu di hari jaman ini. Namun apa yang terjadi malah sebaliknya yang banyak terjadi. Yaitu pemberian marga atau nama keluarga pada anak. Biasa terjadi pada pasangan muda yang baru memiliki anak. Dikatakan bahwa dengan menggunakan marga maka menjadi lucu. Bisa pula membuat anak akan menjadi lebih bijaksana dalam bertindak dalam melakukan segala sesuatu. Namun pemberian marga atau nama keluarga ternyata sejatinya adalah usaha untuk memiliki anak tersebut, yang sejatinya merupakan titipan dari tuhan. Dimana-mana yang namanya titipan tidak untuk dimiliki. Ada kalanya titipan itu ditambah sesuatu menjadi baik. Ada pula tidak. Yang pasti tidak ada yang namanya titipan itu bila dikurangi akan menjadi lebih baik, itu tidak.

Adalah lebih bijaksana jika membiarkan anak menjadi seorang individu yang bebas merdeka. Apa yang mereka perbuat bukanlah akan membawa nama keluarga. Ya, mungkin paradigma saat ini adalah seperti itu. Namun sejatinya adalah tidak. Seorang manusia dalam hidupnya akan belajar banyak hal. baik dan buruknya akan mereka ketahui dari apa-apa yang mereka alami. Adapaun sebagai orang tua yang membesarkan, mendidik mereka, perannya ya hanya sebatas itu saja. Apa-apa yang seorang anak lakukan tidak ada sangkut pautnya kepada keluarga. Yang ada hanyalah hubungan antara layaknya guru dan murid, dimana dalam hal ini bisa dikatakan guru dan murid yang memiliki hubungan yang amat dekat.

Begitulah. Jangan berusaha memiliki apa-apa yang bukan kepunyaan sendiri. Biarkan seorang anak menjadi individu bebas yang merdeka. Bebas berbuat, merdeka melakukan apa saja, berdasarkan apa-apa yang diajarkan oleh guru mereka yang lebih awam terdengar dengan sebutan orang tua.