Yang aku lakukan ini sangat klasik. Bagai ada di film-film jaman dahulu, dimana seorang pemuda menuliskan sebuah kisah cinta tentang rindu pada seorang wanita.
Malang. Kesannya bagiku ia adalah kota yang lucu menurutku. Pertama dari segi penjual makanan. Yang di jakarta disebut pecel lele/ayam, maka di malang dan jawa timur pada umumnya dikenal sebagai lalapan. Entah kenapa disebut begitu. Mungkin mereka sering melihat orang sunda memakan sayuran mentah dan disebut lalap, maka mereka pun menyebutnya lalapan. Mungkin juga sebaliknya.
Apa isi lalapan itu? Ada tiga yang banyak ditemui di sini.ikan mujaer goreng, ikan lele goreng, dan ayam goreng. Serta tak lupa tahu dan tempe sebagai pelengkapnya. Juga tak lupa bahan utama yang menjadi namanya, lalapan berupa kol, kemangi, dan mentimun. Itu dia satu lagi yang aneh. Padahal lalapan tetap merupakan pelengkap saja, tapi makanan-makanan ini disebut lalapan. Tentu, semua itu ditutup dengan sambal ulek yang dicampur dengan tomat dan gula jwa, sehingga rasanya pun menjadi pedas campur manis.
Hal lainnya dari makanan lalapan ini adalah lauk utama ayamnya. Kalau di jakarta, pecel ayam jakarta, ayam yang disajikan ‘adalah bagian dada maupun paha utuh. Lain halnya dengan lalapan yang ada di jawa timuran. Yang pertama aku jumpai adalah yang modelnya begini: ayam dipotong bagian-bagian kecil, kemudian ditusuk menjadi sate, dan kemudian digoreng, dengan bumbu ayam goreng tradisional tentunya.
Kedua kali saya membeli lalapan ayam ini, yang saya temukan adalah ayam goreng tepung. Yang mana biasanya ayam goreng tepung ini saya lahap dengan menggunakan sambal sebagai pelengkapnya, disini ayam goreng tepung tersebut disantap dengan menggunakan sambel ulek.
Kemudian yang juga saya temukan lucu adalah pilihan nasinya. Dimana biasanya pilihan nasi yang ada adalah nasi uduk dan nasi putih biasa, maka di malang ini yang saya temukan pilihan nasinya adalah nasi kuning dan nasi puti biasa. Penyajian pecel ayam goreng tepung ini pun cukup lucu. Ayam yang sebenarnya sudah digoreng garing dengan berbalur tepung itu digoreng kembali sesaat sebelum disajikan. Menurut saya itu ya kurang baik karena minyaknya malah akan menjadi lebih banyak. Tapi mungkin apa yang ada dalam pemikiran sang penjual adalah dia berusaha menghangatkan lagi ayam yang sudah dingin. Kemudian semua itu dibungkus menjadi satu dengan pembungkus kertas. Nasi, lauk, dan lalapan, serta sambal dijadikan satu. Ini satu hal lagi yang berbeda dalam hal penyajiannya di tempat lain, dimana di tempat lain pembungkusannya dipisah-pisah antara nasi, lauk, lalap, dan sambalnya.
Apa lagi yang kemudian menarik di malang ini adalah nasi gorengnya. Di malang sini penjual nasi goreng akan bertanya apakah ingin pakai sambal atau tidak. Jika tidak, maka nasi goreng akan berwarna cokelat seperti biasa kita kenal. Akan tetapi, jika menggunakan sambal, maka nasi goreng yang dipesan akan memiliki warna yang bervariasi, tergantung sambal yang digunakan oleh si penjual. Yang saya makan kali ini adalah nasi goreng yang berwarna pink. Menurut teman saya, di tempat lain dia pernah juga memakan nasi goreng yang berwarna ungu. Ini bukan menggunakan pewarna macam-macam, karena memang jenisa sambalnya yang digunakan memang berbeda, yaitu sambal yang didatangkan dari cina sana. Entah apa itu namanya.
Di malang, saya tidak terlalu banyak memperhatikan tingkah polah anak mudanya. Yang banyak saya lakukan adalah banyak berwisata ke beberapa candi yang ada di malang dan sekitarnya. Candi Badut, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Sumberawan, dan Candi Singosari saya datangi sesuai urutan penulisan.
Dalam benak saya ketika akan mengunjungi candi-candi tersebut adalah akan ramai, banyak pengunjung, sulit mendapatkan foto yang bagus, dan lain sebagainya. Tapi oh ternyata semua itu hanyalah bayangan semata. Kenyataannya adalah situs candi-candi tersebut berada di tengah-tengah pemukiman penduduk dan sepi pengunjung, padahal hari itu hari sabtu. Lokasi candi-candi tersebut bisa dikatakan sangat bersih dan terawat. Rapih dan bersih mungkin ada beberapa sebabnya. Mungkin karena situs-situs tersebut masih dihargai oleh penjaga dan masyarakat yang peduli bahwa situs-situs tersebut merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga sehingga wajib dilestarikan. Mungkin juga bersih dan terawat karena situs-situs tersebut masih dipakai oleh umat hindu. Hal ini kuat juga untuk menjadi alasan karena di candi-candi tersebut terdapat dupa-dupa peribadatan yang masih menyala. Atau mungkin bersih dan terawat karena alasan yang ketiga, yaitu karena masyarakat masih mengkeramatkan, memuja-muji, dianggap angker dan berpenghuni. Maka masyarakat sekitar pun merawat dan menjaganya. Entahlah mana yang benar. Ini semua hanyalah hasil analisis dan pengamatan saya saja.
Biasanya, di situs-situs sejarah terdapat banyak corat-coret. Namun di situs candi ini tidak terdapat corat-coret. Bentuk vandalisme yang ada berupa pahatan-pahatan nama . ya, benar sekali, pahatan nama. Oh, betapa niatnya para vandalis itu memahat karena tidak bisa mencoret. Oh bukankah memahat itu membutuhka waktu yang lama? Dan berisik? Tapi para penjaga tidak ada yang bereaksi? Dan vandalisme ini tetap ada? Entahlah.
Salah satu candi yang menurut saya cukup unik adalah Candi Sumberawan. Unik karena lokasinya yang berbeda denagn kebanyakan candi lainnya. Jika candi yang lainnya berlokasi di sekitaran perumahan penduduk, maka candi sumberawan ini berada di tengah-tengah hutan, dekat dengan persawahan. Mungkin karena lokasinya yang sulit dijangkau kendaraan, yaitu hanya dapat dilalui motor atau jalan kaki, maka candi ini menjadi kurang populer. Mungkin juga kurang tepat jika dikatakan sebagai candi dan lebih tepat disebut sebagai stupa. Karena memang bentuknya yang seperti stupa tunggal saja. Satu hal yang menarik di tempat ini adalah adanya semacam tempat meditasi, yang mana tidak saya temui di candi-candi lainnya. Entah itu adalah memang asli atau buatan baru (tapi sepertinya itu adalah buatan baru), dan mungkin dipakai untuk semedi (pesugihan?). memang lokasinya yang berada di tengah-tengah hutan memberikan suasana yang sangat magis.
Kami pun (saya dan teman saya) datang ke candi Sumberawan ini saat magrib tiba. Penjaga di sana menatap kami dengan tatapan sedikit curiga tentang kenapa kami datang ke sana pada waktu magrib. Seolah-olah kami datang ke sana untuk mencari pesugihan. Sampai pada akhirnya kami menjelaskan bahwa kami sedang berkeliling situs candi yang ada di malang dan sekitarnya, dan baru pada menjelang magrib itulah kami tiba di candi suberawan. Dan memang kami tidak ada maksud lain selain untuk berwisata.
Untuk masuk ke situs-situs candi tersebut tidak dikenakan biaya seperserpun. Setidaknya itu yang kami alami. Kami hanya mengisi buku tamu dan boleh berkeliling di komplek candi. Hanya saja di can di Sumberawan penjaga di sana meminta “uang partisipasi” pada kami dengan nominal yang tidak ditentukan (baca: seikhlasnya). Saya tidak tau bagaimana seharusnya kami bersikap. Apakah harus memberikan uang pada penjaga, atau tidak. Karena di lokasi pun tidak ada aturan mengenai itu. Tidak ada aturan yang melarang atau mengharuskan untuk membayar sejumlah uang tertentu untuk memasuki lokasi candi. Maka kami melakukan apa yang kami lihat. Yaitu jika penjaga tidak meminta, maka kami tidak memberi. Demikian pula sebaliknya.
Selain itu satu hal yang saya salut dan kagumi dari penjaga yang ada di candi kidal adalah bahwa ia sungguh juru kunci yang ideal. Dikatakan oleh dirinya sendiri bahwa dialah yang membuat peraturan mengenai tata cara kunjungan candi, serta larangan-larangan tambahan lainnya. Tujuannya adalah agar masyarakat, terutama anak muda bisa lebih peduli pada warisan leluhur mereka.
Apa lagi? Diketahui pula bahwa kebanyakan candi-candi tersebut ditemukan oleh belanda sekitar tahun 1920-1930-an. Ini artinya belanda baru sampai ke malang sekitar tahun-tahun itu. Kenapa ini saya ceritakan karena ada hubungannya dengan cerita yang akan saya ceritakan berikut ini.
Di malang saya bertemu dengan teman lama yang mana saya tidak menduga akan bisa bertemu dengannya di sana. Kenapa? Karena yang saya tau dia tinggal di bekasi. Tapi ternyata seiring berjalannya waktu keluarganya pindah ke malang. Maka berpindahlah dia ke malang. Zulfa namanya. Saya mengenalnya sewaktu saya dan dia berkuliah di bandung.
Di pertemuan itu kami banyak bercerita. Berbincang tentang waktu-waktu yang hilang. Sampai pada saat ia bertanya pada saya tentang bagaimana pendapat saya tentang wanita-wanita di malang. Apakah lebih cantik dari wanita di bandung? Atau bagaimana? Menurutnya wanita malang lebih cantik (cenderung manis) daripada wanita-wanita bandung. Menurut saya, wanita malang dan wanita bandung memiliki kecantikan yang sama dengan kekhasan mereka masing-masing, berdasarkan latar belakang sejarah.
Begini. Malang dan bandung bisa dikatakan memiliki cuaca yan serupa. Pegunungan dan dingin serta sejuk. Dengan cuaca yang demikian, maka cara wanita berpakaian, berdandan, serta cara mereka berperilaku adalah serupa pula. Maka, cuaca, dan iklim bukanlah sebab mereka memiliki kecantikan khas daerahnya masing-masing. Kekhasan kecantikan mereka didapat akibat adanya perbedaan latar belakang sejarah daerah mereka.
Di jaman penjajahan dulu, Bandung merupakan kota yang sangat disukai oleh para penjajah jepang dan belanda. Jauh pada awal penjajahan mereka sudah banyak dari mereka yang menetap di bandung karena cuaca bandung yang sejuk, mirip dengan cuaca negara mereka yang merupakan negara subtropis. Akan tetapi moral mereka pada jaman awal penjajahan matalah bejat. Lebih bejat dibanding pada masa menjelang kemerdekaan. Banyak terjadi pemerkosaan yang dilakukan para penjajah terhadap wanita-wanita lokal, yang pada akhirnya menghasilkan anak yang berdarah campuran eropa-asia, belanda-indonesia, dengan wajah dan fisik yang yang juga merupakan perpaduan keduanya. Anak-anak mereka itu terus hidup. Beranak pinak hingga sekarang anak cucu merekalah yang menjadi warga asli bandung. Meneruskan kecantikan darah campuran eropa-asia, hingga saat ini. Berbeda halnya dengan malang. Berdasarkan data yang ditemukan di candi-candi malang, situs-situs tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1920-1930 oleh bangsa belanda. Artinya, penjajah belanjda mulai masuk ke wilayah malang dan sekitarnya pada masa menjelang kemerdekaan, dimana moral para penjajah tidaklah sebejat masa awal penjajahan mereka. Perlakuan mereka terhadap pribumi lebih baik dan pemerkosaan pun tidak terjadi sebanyak pada masa dahulu. Maka anak turun yang lahir dari perut wanita malang adalah tetap murni dari garis keturunan mereka sendiri, dengan kecantikan murni khas indonesia.
Itulah, mengapa terdapat perbedaan antara wanita bandung dan malang, dengan kecantikan khas mereka masing-masing yang berlatarbelakang sejarah mereka. Dan ini pula lah yang aku sampaikan kepada zulfa sebagai jawaban dari pertanyaannya.
Kereta Malabar kelas ekonomi.
24 Juni 2012